• Post author:
  • Post category:Artikel

Menuju H-7 Bulan Suci Ramadhan, Indonesia akan selalu kental dengan berbagai macam kebudayaan yang menyertainya. Saat kita kecil, tentu kita mengenang berbagai macam kegiatan menyambut datangnya bulan mulia bagi umat Islam di Seluruh Penjuru Dunia.

Karena Islam disebarkan ke nusantara oleh banyak Ulama, termasuk diantaranya Wali Sanga (Sembilan Wali), maka tidak heran kita bisa menemukan berbagai macam tradisi yang di akulturasi dengan kearifan lokal.

Dari sekian banyak tradisi yang digabungkan tersebut, 10 diantaranya merupakan tradisi yang kini hampir ditinggalkan oleh generasi mudanya. Kira-kira apa saja tradisi tersebut? Tim Rosco sudah mengumpulkannya untuk kalian.

Daftar Tradisi Ramadhan di Indonesia yang kini mulai ditinggalkan

Sebagaimana disebutkan, bahwa kehadiran agama Islam di Nusantara (nama untuk Indonesia sebelum zaman kolonialisme) tidak bisa lepas dari peranan para Sembilan Wali, yang dikenal sebagai sebutan Sunan.

Maka dari itu, kebanyakan tradisi menyambut bulan puasa kental dirasakan oleh masyarakat di Pulau Jawa, walau beberapa ada juga yang berasal dari luar Jawa sebagai bentuk keanekaragaman perpaduan budaya yang dibawa oleh para pedagang dari Gujarat, China, hingga Arab.

Dari sekian banyak budaya, berikut adalah budaya yang sangat terkenal dilakukan menjelang bulan Ramadhan di Indonesia, dan kini mulai ditinggalkan oleh generasi muda, apa sebabnya?

1.Nyadran

Nyadran berasal dari Jawa Tengah, dimana pada hari ke-10 bulan Rajab atau setiap datangnya bulan Sya’ban, masyarakat akan berbondong-bondong memenuhi pemakaman untuk berziarah.

Pada tradisi Nyadran, tersirat makna dalam dari kegiatan ziarah makam ini, yaitu walau yang anggota keluarga telah meninggal, namun silaturahmi untuk mengingatkan bahwa suatu saat yang hidup juga akan mengalami kematian. Sehingga dilakukan aktivitas untuk menghormati jasad yang telah dimakamkan dengan membersihkan makam, berdoa, dan berzikir.

Nyadran juga menjadi aktivitas sosial, karena saat melakukan ziarah makan, tak jarang beberapa keluarga akan saling bertemu dan melakukan jabat sembari memaafkan satu sama lain, membuka hati yang lapang sebagai simbol menyambut bulan Ramadhan yang suci.

2. Padusan

Padusan juga berasal dari Jawa, dengan makna kada Padus, yang bermakna membersihkan diri dengan membasuh diri (mandi.red).

Tradisi padusan ini dikenal oleh masyarakat pesisir pantai utara dan pesisir selatan Jawa, dimana mereka akan mengunjungi laut dan membersihkan diri di sana. Masyarakat di pesisir pantai percaya bahwa padusan adalah simbol untuk membersihkan diri dari dosa-dosa yang telah dilakukan, dengan begitu mereka bisa memulai bulan ramadhan dengan tubuh dan hati yang lebih bersih.

Di daerah lain, padusan juga dilakukan dengan membersihkan diri di aliran sungai-sungai, dengan membasuh mulai dari Rambut, hingga ke seluruh tubuh.

3. Nyorog

Tradisi berikutnya yang mulai ditinggalkan oleh Generasi Millenial di Indonesia adalah Nyorog, tradisi ini dikenal oleh masyarakat Betawi sebagai bentuk penghormatan kepada yang lebih tua dan sebagai bentuk silaturahmi sembari menyambut datangnya bulan puasa.

Nyorog dilakukan dengan mempersiapkan sebuah kotak makan dari bambu (besek) berisikan makanan untuk kemudian dibawa ke keluarga dan sanak famili yang lebih tua.

Dalam Nyorog terkandung makna permintaan maaf yang tulus untuk mereka yang lebih tua (orang tua, kakak, dsb) dan simbol balas budi yang tidak terkira kepada mereka. Dalam Besek terdapat berbagai makanan khas Betawi, yang dapat dinikmati bersama-sama.

4. Malamang

Tidak jauh beda dengan Nyorog pada budaya betawi, dalam kebudayaan menyambut bulan Ramadhan di Indonesia, terdapat sebuah tradisi untuk memasak makanan yang kemudian dinikmati bersama-sama.

Malamang adalah tradisi memasak beras ketan yang kita kenal sebagai Lemang, asal budaya ini dari Sumatera Barat, dimana masyarakat melayu di sana akan membungkus beras ketan dalam daun lontar dan di masukan dalam bambu, dibakar hingga matang.

Malamang disimbolkan sebagai membakar hawa nafsu, sebagai salah satu bentuk hal yang dapat membatalkan puasa. Malamang kemudian disajikan dan dinikmati oleh anggota keluarga, beberapa ada yang memberikan kepada tetangga sebagai bentuk penghormatan dan silaturahmi juga.

5. Meugang

Jika di Sumatera Barat terdapat tradisi malamang, maka di Sumatera Utara, khususnya Daerah Istimewa Aceh, masyarakat akan menyelenggarakan sebuah tradisi yang dikenal dengan Meugang.

Meugang dalam tradisi masyarakat Aceh dikenal sebagai bentuk ucapan syukur setelah melalui 11 bulan lamanya dalam tahun tersebut. Bentuk syukur dilakukan dengan memasak daging lalu membaginya kepada keluarga, kerabat, anak-anak yatim piatu ataupu masyarakat lainnya.

Pada masa ini, masyarakat akan menyembelih hewan ternak seperti Sapi, kerbau, atau kambing. Dan dagingnya yang akan diolah serta dibagikan sebagai bentuk syukur menyambut bulan Ramadhan.

6. Balimau

Dalam menyucikan diri, masyarakat di Jawa mengenal Padusan, sementara di Sumatera dikenal dengan istilah Balimau.

Hampir sama dengan tradisi padusan, namun pada Balimau, Masyarakat Sumatera, terutama Sumatera Barat akan mendatangi kolam atau sumber-sumber air di Pegunungan, dan mencampur air untuk membilas tubuhnya dengan perasan Jeruk Limau.

7. Dugderan

Ramadhan adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh sebagian besar umat muslim di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia, khususnya Semarang.

Kegembiraan menyambut datangnya bulan suci ramadhan di rayakan dengan penuh suka cita oleh masyarakat Semarang dengan mengadakan arak-arakan atau pawai yang dikenal sebagai Dugderan.

Dugderan sudah menjadi tradisi yang cukup lama, sejak tahun 1881, semenjak kerajaan dan kebudayaan islam mulai diperkenalkan di sana. Dugderan sendiri menjadi sebuah agenda rutin yang kini sudah mulai ditinggalkan masyarakat, apalagi semenjak adanya larangan kumpulan masa dalam jumlah besar selama pandemi COVID-19.

8. Megengan

Selain mandi, masyarakat di Jawa mengenal cara untuk menyucikan diri dengan memakan makanan dengan tekstur yang lembut, seperti Apem. Tidak heran Apem akan ditemukan banyak sebagai hidangan berbuka puasa, seperti di Kerajaan Kaibon di Banten, hingga ke Surabaya.

Megengan sendiri dikenal oleh masyarakat Surabaya sebagai sebuah simbol menyucikan diri dengan memakan buah Apem. Banyak literatur menyebutkan bahwa penggunaan apem sebagai simbol untuk mensucikan diri ini karena pelafalannya yang mirip dengan kata Afwan dalam bahasa Arab, yang berarti Maaf.

Namun karena banyaknya olahan makanan yang kini bervariasi dengan berbagai olahan modern, menjadikan apem mulai ditinggalkan sebagai salah satu menu berbuka puasa.

9. Megibung

Penyebaran dan tradisi menyambut ramadhan di Indonesia tidak hanya di Sumatera dan Jawa. Penyebaran ajaran Islam dan tradisi ramadhan untuk berkumpul bersama sanak keluarga untuk saling bermaaf-maafan juga dikenal di Bali.

Megibung hampir sama dengan kebudayaan Munggahan di Jawa Barat, dimana pada waktu seminggu atau dua minggu sebelum tiba Bulan Ramadhan, sanak keluarga akan berkumpul dan bersilaturahmi. Meminta maaf atas segala kesalahan yang telah dilakukan di bulan-bulan sebelumnya.

10. Munggahan

Sebagaimana telah disebutkan diatas, Munggahan merupakan tradisi dari tanah Pasundan, tepatnya Jawa Barat untuk menyambut bulan Puasa di Indonesia.

Tradisi untuk berkumpul bersama anggota keluarga menjadi salah satu tradisi yang paling banyak ditemukan sebagai sebuah tradisi menyambut datangnya bulan Puasa, yaitu kembali mengeratkan silaturahmi dan memohon ampun atas kesalahan sesama manusia.

Semua tradisi tersebut kiranya mulai ditinggalkan satu persatu, jika kita melupakan esensinya. Bahwa bulan Ramadhan adalah bulan penuh ampunan.

Share This To The World

Leave a Reply